24 October 2012
Category:
Sales
Training Views: 920
Comments: 0

Emotional Selling #2

Ok, sekarang kita tahu dalam proses selling yang penting adalah memikat hati pelanggan.
Sekarang bagaimana cara memikat hati pelanggan ?
oiya, “hati” ( heart ) bukan lah jantung, melainkan kata yang dipilih sebagai subjek yang mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan perasaan ( emotional ).

selling, training sales, emotional selling

selling, training sales, emotional selling

Dalam bahasa psikologis , hati sering dikaitkan dengan pikiran bawah sadar ( unconcious mind ).
Pikiran bawah sadar adalah bagian dari pikiran kita yang mengatur gerakan spontan dalam diri kita.

Pernahkah Anda baru ketemu seseorang ( secara spontan ) langsung merasa :
“wahhh, asyik juga nih orang “
“wowwww, baru liat langsung suka “
ATAAAUUUU
“ ih, kok gue ga suka ya liat dia”
“(dalam hati ) saya ga percaya ama orang ini

Ingatkah Anda, kesan pertama begitu menggoda..selanjutnyaaaa…terserah Anda

Banyak ahli mengatakan, bahwa 90 detik pertama menentukan keberhasilan dalam proses selling. Karena 90 detik pertama adalah membwrikan pengaruh yang kuat untuk selanjutnya. Kalau dari awal udah suka, besar kemungkinan selanjutnya akan suka. Tapi kalau dari awal udah ga suka, susah juga untuk mengubah perasaan tersebut. Walaupun masih bisa.

Kalau begitu, bagaimana cara mencipatakan kesan pertama yang luar biasa dalam proses selling ?
Bagaimana supaya bisa meraih hati pelanggan dengan cepat saat melakukan selling?
Apa strategi yang tepat dalam meraih hati pelanggan ?

Ada 7 strategi dalam mempengaruhi pikiran bawah sadar pelanggan Anda.

Yang pertama adalah libatkan semakin banyak panca indra pelanggan. Penelitian menunjukkan bahwa semakin banyak panca indera yang dilibatkan semakin kuat ikatan emosi yang terbangun dengan customer, sehingga mampu mempengaruhi perilaku mereka.

Contoh : Mana yang lebih menarik , jualan rainbow cake di tarih di etalase atau jualan rainbow cakes tapi diperlihatkan secara live proses pembuatannya ( visual ), diajak untuk mencicipi testernya, mmm…lezat ( indera pengecapan) , kemudian di perkuat aroma nya ( indra penciuman ).
Kalau anda sales mobil, jangan lihat kan brosur terlebih dahulu . Apalagi brosur harga. Karena harga sifatnya logika. Logika karakternya analisa dan kritis. Calon pelanggan Anda akan langsung bicara dalam hati : MAHAAALLL, saya ga mampu beli ini.

TAPI lakukan hal berikut ini :

Begitu datang ke showroom, langsung saja Anda suruh pilih :
“ Mau test drive yang putih atau yang merah ini Pak ? Suatu kehormatan saya untuk mengajak Bapak untuk bisa menemani Bapak test drive keliling showroom.
Ajak pelanggan Anda untuk melihat – lihat eksterior mobil ( indera penglihatan akan aktif ).
Kemudian ajak masuk untuk merasakan jok mobil ( indera peraba pelanggan akan otomatis aktif ).
Nyalakan mobil & AC ( indera perasa akan merasakan suasana nyaman ).
Nyalakan audio mobil ( indera pendera akan aktif ).
Seketika itu juga pelanggan melihat sekeliling interior mobil ( indera penglihatan menjadi aktif )
Lalu tancap gas Anda untuk mengajak pelanggan berkeliling…
Rasakan beda nya tingkat penjualan dengan teknik ini.

Lho, kalau udah cape-cape ajak test drive tapi dia ga mampu beli mobil ini gimana ?
Mampu atau tidak mampu, itu masalah emosi. Banyak orang yang sebenarnya tidak mampu beli mobil, tapi dorongan emosi yang selalu di stimulus, membuat pelanggan merasa bahwa mobil ini HARUS jadi miliknya.

Perasaan HARUS memiliki itu berasal dari perasaan, bukan dari logika.

Cara menimbulkan perasaan HARUS beli di dalam hati pelanggan yaitu dengan melibatkan sebanyak mungkin panca indra pelanggan dalam proses selling.

Saatnya Anda jadi pelaku emotional selling. Sekarang juga raih hati pelanggan.
Biasanya saat training sales, kami uraikan teknik detail yang cocok untuk produk Anda. Karena jualan mobil, pasti beda dengan jualan produk perbankan, setuju ? jualan sayur pasti beda dengan jualan gadget, betul ?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>