Dosakah jika ingin Kaya ?
8 April 2011
Category:
MotivAKSI Views: 1,814
Comments: 0

Dosakah jika ingin Kaya ?

Jika hari ini Anda bilang ke istri, teman atau keluarga bahwa Anda ingin kaya, bagaimana reaksi mereka ? mendukungkah atau meremehkan? Jika Anda ucapkan kata kaya atau orang kaya, apa yang terlintas dipikiran Anda? Tamak, sombong, angkuh, selingkuh, mabuk – mabukan, broken home ? kemungkinan itu lah yang ada dipikiran kita. Jarang sekali orang mengkaitkan kata kaya dengan sifat dermawan, baik hati, suka menolong atau keluarga yang harmonis.

Seberapa pentingkah untuk menjadi kaya? Jika pertanyaan ini diajukan, banyak orang yang menjawab, “tidak terlalu penting” atau “hidup sedang-sedang ajalah,nggak kurang,nggak lebih”. Hidup sedang – sedang saja atau statis tidak akan pernah terjadi, karena variabel – variabel ekonomi di sekitar kita selalu mengalami perubahan yang cenderung naik. Sedangsering diartikan cukup. Kondisi cukup sendiri tidak pernah terjadi. Contoh ketika gaji Anda 1,5 juta sebulan dan Anda baru menikah, Anda cukup atau sedang. Tapi kalau Gaji tetap 1,5 juta tapi Anak Anda mau masuk perguruan tinggi, maka 1,5 juta tidak akan cukup.

dosakah jika ingin kayaAda tiga faktor yaitu pikiran bawah sadar, lingkungan dan kurangnya pemahaman terhadap prinsip. Pikiran bawah sadar yaitu kebiasaan berpikir yang akan mempengaruhi kita dalam mengambil keputusan atau tindakan, tanpa perlu berpikir telebih dahulu. Contoh kalau Anda dikejar anjing galak, Anda pasti tidak berfikir terlebih dahulu apakah akan lari atau tidak? Bayangkan jika Anda malam -malam pulang kantor sendirian, lalu di tengah gang menuju rumah Anda, Anda bertemu dengan orang tinggi besar badan penuh tato, wajahnya beringas, berpakaian urakan dan ditangannya memegang pisau atau clurit, apa reaksi Anda? Apakah Anda berpikir dulu untuk “takut”? Pikiran bawah sadar terbentuk dari informasi yang diterima terus menerus disampaikan ke otak kita. Kenapa Anda langsung takut melihat orang bertato, berbadan besar, wajah beringas dan memegang pisau ? karena karakter seperti itu adalah karakter penjahat yang ada di acara televisi yang kita tonton setiap hari. Sehingga pikiran bawah sadar kita, tanpa perlu berpikir panjang lagi, langsung menyimpulkan bahwa orang tersebut adalah penjahat.

Kenapa kaya identik dengan tamak, sombong, lupa akhirat ? karena itulah yang kita tonton di televisi setiap hari. Di sinetron – sinetron atau di film, karakter orang kaya selalu identik dengan karakter jahat dan sombong. Sementara karakter orang miskin adalah karakter yang teraniya dan baik hati. Tidak cuma film atau sinetron, karakter orang kaya yang jahat juga sudah “dikonsumsi” otak kita sejak saat kita di nina bobo kan dengan dongeng Bawang Merah Bawang Putih, Putri Salju, atau kisah Cinderella. Dimana dalam dongeng tersebut orang kaya adalah karakter jahat atau sombong. Image tersebutlah yang tersimpan di pikiran alam bawah sadar kita.

Yang kedua adalah faktor lingkungan, meliputi orang tua, teman dan orang – orang di sekitar kita. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa orang yang terlahir dari lingkungan kaya, susah sekali untuk menjadi miskin dan seorang yang berada dari lingkungan miskin tidak mudah untuk menjadi kaya. Artinya untuk pindah “ level finansial” baik turun ataupun naik, membutuhkan sebuah usaha yang berat. Hal ini berkaitan dengan hukum newton ketiga atau hukum kelembaman, dimana benda yang diam akan cenderung diam dan benda yang sedang bergerak cenderung bergerak. Orang kaya cenderung mempertahankan kekayaannya, orang miskin cenderung mempertahankan kemiskinannya. Dan keduanya dimotivasi oleh faktor lingkungannya.

Manusia memiliki kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya. Orang yang lahir dan besar di kutub utara, akan merasa tidak nyaman jika pindah ke Indonesia dengan iklim tropis. Namun seiring dengan berjalannya waktu dan dengan usaha yang keras untuk beradaptasi, kemunginan besar orang tersebut akan bisa menyesuaikan diri dengan cuaca di Indonesia. Tidak usah heran jika anak – anak kecil di London sudah pintar berbahasa inggris. Kata – kata atau pemahaman yang sering kita dengar dari orang di sekitar kita, akan sangat membentuk pola pikir kita. Jika orang tua kita selalu bilang : “ uang tidak perlu “ atau “uang tidak perlu dikejar, kalau kamu berpendidikan uang akan datang sendiri ”. Masih berlakukah ungkapan ini? karena banyak sekali saat ini S1 dan S2 yang menganggur alias “tidak dikejar uang”. Perilaku lingkungan yang selalu kekurangan, dimana  pembicaraan ibu – ibu dekat rumah adalah harga – harga yang naik terus, keluh kesah karena tidak puas dengan kondisi ekonomi, gaji yang tidak naik –naik sangat besar pengaruhnya dalam membentuk pola pikir kita. Dari kondisi ekonomi yang tidak bagus di lingkungan kita, secara tidak langsung akan memprogram alam pikiran bawah sadar kita untuk melakukan 2 reaksi.Yaitu lari dari masalah (sok cuek padahal butuh ) atau benci uang ( membenci orang –orang kaya) .

Jika Anda dilahirkan di sebuah keluarga yang punya rumah mewah lengkap dengan kolam renang, punya 4 buah Mobil BMW dan Mercy terbaru, setiap liburan selalu di habiskan keluar negeri atau umrah,dan saat ini keluarga Anda punya 5 buah panti asuhan yang membiayai 500 orang anak yatim piatu,  apakah Anda juga membenci uang ? Apakah Anda juga akan mengatakan uang tidak penting ? Apakah Anda akan tetap mengatakan orang kaya itu jahat ?

Yang ketiga pemahaman terhadap prinsip. Dalam hal ini adalah prinsip agama. Pemahaman yang salah tentang dikotomi dunia akhirat membuat perbedaan sikap. Ada pemahaman yang salah bahwa kita harus milih atau fokus cuma pada akhirat saja atau dunia saja. Jika pilih dunia maka akan lupa akhirat. Sehingga pada pemahaman yang salah, beberapa kalangan mengatakan tidak baik mencari harta.

Dan perumpamaan orang yang menafkahkan kekayaannya untuk mencari keridhoan Allah danuntuk keteguhan jiwanya, adalah seperti kebun di tempat yang tinggi. Hujan lebat menimpanya. Maka dihasilkannya makanan dua kali ganda. Dan jika tiada hujan lebat menimpanya, ( paling sedikit ) ada embun. Allah melihat segala yang kamu lakukan.

QS 2 Surat Al Baqarah ayat 265

Sungguh mulia orang yang bisa menafkahkan rezekinya. Namun bagaimana kita bisa menafkahkan rezeki kalau kita saja selalu kekurangan. Untuk hidup sehari – hari saja  selalu pas – pas an. Setiap tahun ajaran baru, anak mau masuk sekolah selalu mengeluh. Harga cabe dan kebutuhan sehari – hari naik juga  mengeluh. Bukannya mengambil tindakan untuk memperbanyak rezeki, tapi malah mengeluh. Bagaimana bisa mengisi piring orang lain, kalau piring kita saja kosong.

Dalam salah satu bukunya, AA Gym mengatakan , kalau orang miskin alim dan rajin berdoa minta rezeki dan mendekatkan diri pada Allah SWT itu wajar, karena memang tidak punya. Tapi kalau orang kaya dekat dengan Allah, dan karena kekayaanya dia merasa bersyukur, itu baru luar biasa.

Dari ayat diatas pun kita bisa pahami bahwa orang yang menafkahkan kekayaan sungguh mulia dihadapan Allah SWT.  Dan kekayaan tersebut bisa digunakan untuk meningkatkan keteguhan jiwa atau meningkatkan rasa syukur kepada Allah SWT.

Ada ungkpan bahwa fakir lebih dekat ke kafir. Saat kita dalam kondisi kekurangan cenderung lebih susah untuk bersyukur daripada saat kita berkelimpahan harta. Dan dengan bersyukur kita pasti lebih dekat dengan Allah.

Dan orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah, demikian pula orang yang memberi ( mereka ) perlindungan dan pertolongan, merekalah orang yang beriman sesungguhnya.Bagi mereka ampunan dan rezeki berkelimpahan.

QS 8 Al Anfaal ayat 74

Dalam ayat diatas diberi penegasan bahwa bagi mereka ampunan dan rezeki berkelimpahan. Rezeki berkelimpahan adalah pemberian dari Allah SWT. Pemberian tersebut tentu saja suatu hal yang mulia. Contoh, jika Anda juara kelas, tentu Anda akan diberi sesuatu yang  istimewa, yang tidak diberikan kepada teman Anda yang tidak berprestasi. Dan tentu nya hadiah tersebut merupakan hal yang istimewa. Lebih – lebih jika rezeki datang dari Allah SWT. Dan pastilah setiap rezeki datangnya dari Allah SWT.

Dan Allah memberi sebagian kamu keutamaan di atas yang lain dalam hal rezeki. Tetapi tiadalah orang yang diberi keutamaan, memberikan lagi rezekinya kepada hamba-hamba yang dimilikinya, supaya mereka sama menikmatinya

QS An Nahl Ayat 71

Dari ayat diatas dijelaskan bahwa sebagian manusia diberi keutamaan atau kelebihan dalam hal rezeki. Namun hal ini hendaknya tidak dijadikan sebagai alasan bagi orang – orang yang malas untuk berusaha. Sering sekali pemahaman yang salah tentang syukur dan takdir dijadikan kambinghitam atas keadaan finansial. Ungkapan – ungkapan seperti : “ saya memang sudah ditakdirkan hidup begini, ya terima saja”, “hidup itu ya bersyukur/nrimo”., dan sebagainya.

Takdir adalah merupakan suatu skenario ketetapan yang sudah ditetapkan Allah jauh sebelum manusia diciptakan. Rukun iman yang ke 6, percaya pada Qada ( sesuatu yang belum terjadi) dan Qadar ( Sesuatu yang sudah terjadi ). Apa yang sudah terjadi sebelum 1 menit yang lalu sampai berjuta – juta  tahun yang lalu jauh sebelum bumi diciptakan kita-tidak bisa berubah- sebut sebagai Qadar. Yaitu sesuatu yang tidak mungkin diubah. Dan setiap yang telah terjadi adalah kejadian yang terbaik menurut Allah bagi kita. Termasuk jika saat ini kita dalam keadaan tidak punya uang.

Pertanyaannya, apakah kondisi tidak punya uang juga merupakan kondisi yang terbaik juga untuk masa depan kita? Tidak seorang pun yang tahu kebaikan – kebaikan yang akan terjadi di masa depan. Satu – satunya cara adalah melakukan suatu tindakan yang mengarah untuk memperbaiki kondisi finansial kita saat ini.

Sesungguhnya hari depanmu lebih baik dari masa lalumu

QS 93 Ad Duha ayat 4

Lagipula, siapa yang ingin selalu dalam kondisi finansial yang serba kekurangan? Kalau tidak ingin kekurangan, kenapa tidak berusaha. Beberapa orang memang punya keinginan untuk punya kondisi finansial berlebih. Namun mereka takut untuk bekerja keras dan mengalami penolakan atau tantangan. Banyak yang mengeluh : “ siapa yang tidak pengen kaya, tapi untuk jadi kaya kan tidak mudah “

Sesungguhnya setelah kesulitan ada kemudahan

QS 94 Al Insyirah Ayat 5

Artinya jika kita saat ini mengalami kesusahan dalam memperjuangkan masalah finansial,-Al Quran sebagai firman Allah yang tidak diragukan lagi kebenarannya- menyatakan bahwa setelah kesusahan – kesusahan yang Anda alami sudah disiapkan kemudahan. Kebanyakan orang berhenti berusaha sebelum masa kemudahan atau keberhasilan itu datang.

Masih dosakah jika Anda ingin kaya ?


Comments

comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>